[RESENSI] Inferno by Dan Brown: Karya Sastra yang nyaris seperti Kitab Suci

20.12 Damar Tyas 1 Comments

inferno-di-dan-brown






Judul                                     : Inferno
Pengarang                          : Dan Brown
Tebal                                     : 639 halaman
Harga                                    : Rp 125.000,-
Penerbit                              : Bentang Pustaka




Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral


Robert Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence dengan keadaan kepala berjahit dan amnesia cukup parah. Langdon kehilangan ingatan jangka pendeknya yang merupakan alasan mengapa ia bisa tiba di Florence dengan keadaan seperti itu.
Dalam keadaan cukup panik, Langdon juga dikejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya juga dijadikan target oleh seorang pembunuh bayaran serta sepasukan lengkap berseragam hitam milik pemerintah. Dengan bantuan seorang dokter yang bernama Sienna, Langdon pun mengetahui bahwa dirinya membawa suatu benda yang menjadi kunci dari seluruh perjalanan anehnya ini.
Benda itu berbentuk stempel kuno yang memberikan sebuah petunjuk, dimana seluruh rangkaian kejadian ini berhubungan dengan salah satu mahakarya terhebat yang pernah diciptakan. Rangkaian puisi karya Dante Alighieri yang berjudul Inferno (neraka).
Tak jauh dari rumah sakit tempat Langdon dirawat, enam hari yang lalu ditemukan jasad seorang laki-laki yang disinyalir menjatuhkan dirinya dari puncak salah satu menara paling terkenal di Florence. Dan laki-laki tersebut merupakan salah satu klien terpenting dari sebuah organisasi paling rahasia di seluruh dunia, Konsorsium.
Lalu apa hubungan antara pemerintah denga organisasi tersebut? Dan bagaimana Langdon pada akhirnya mampu mengetahui arti dibalik semua petunjuk yang diberikan oleh stempel kuno tersebut?
Buku terbaru karya Dan Brown ini sekali lagi menawarkan penulisan yang sangat sangat sangat Dan Brown sekali. Semua alur,cara pengenalan tokoh-tokohnya, konflik yang ditawarkan hingga cara pemecahannya.
Bagi yang sudah pernah membaca The Da Vinci Code maupun Angel & Demon pasti akan mengetahui apa yang aku maksud dengan ‘khas’ Dan Brown tersebut. Sebenarnya hal ini cukup membuat agak sedikit bosan di awal, namun sekali lagi buku ini masih sangat menarik untuk diikuti.
(Apa mungkin aku bias ya? Hahahaha)
Inferno sendiri adalah bagian pertama dari mahakarya seorang penyair besar yang bernama Dante Alighieri yang berjudul The Divine Comedy (Komedi Ketuhanan). Sedangkan bagian kedua berjudul Purgatorio (Penebusan) dan bagian ketiga berjudu Paradiso (Surga).
Meskipun berjudul komedi, namun The Divine Comedy ini sama sekali bukan karya yang berisi lelucon.Komedi di sini lebih diartikan karena Dante menuliskannya dengan bahasa Italia modern atau lebih dikenal dengan bahasa rakyat.
Karena pada jaman itu, semua karya yang menggunakan bahasa modern akan dianggap kurang sopan atau dalam hal ini disebut sebagai bahasa kelas dua. Maka dari itu disebut sebagai bahasa komedi (lelucon) yang sering dipakai sehari-hari.
Namun justru dikarenakan bahasanya yang mudah dimengerti maka pesan-pesan yang disampaikan oleh buku ini menjadi sangat mudah terpatri di dalam benak setiap orang yang membacanya.
Bahkan menurut sejarahnya setelah buku ini terbit, Inferno menjadi semacam pengingat akan dosa yang harus dihindari. Dan dengan detail neraka versi Dante, banyak orang yang kemudian memilih untuk bertobat. Denga kata lain, buku ini lebih efektif mengajak orang untuk ke Gereja daripada Alkitab pada jaman itu.
The Divine Comedy yang diterbitkan pada tanggal 11 April 1472 - Wikipedia
The Divine Comedy yang diterbitkan pada tanggal 11 April 1472 – Wikipedia

The Divine Comedy ini konon katanya juga membuat Dante mendapatkan apresiasi yang mendalam dari berbagai macam seniman kelas atas. Bahkan pembuat patung David yang tersohor itu juga ikut menuliskan pendapatnya akan penyair tersebut.
Tidak pernah ada di dunia, orang yang lebih hebat daripada dia.
-Michelangelo
Dante hidup di Florence, Italia dari tahun 1265 sampai dengan tahun 1321. Kehidupan Dante sendiri sebenarnya sangat normal seperti layaknya orang kebanyakan, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita bernama Beatrice Portinari yang menjadi cinta matinya seumur hidup dan inspirasi utamanya. Sayangnya cinta Dante bertepuk sebelah tangan karena Beatrice pada akhirnya menikah dengan pria lain.
Lukisan diri Dante membawa buku The Divine Comedy yang dulukis oleh Michelino dan saat ini tergantung di Il Duomo - Florence
Lukisan diri Dante membawa buku The Divine Comedy yang dulukis oleh Michelino dan saat ini tergantung di Il Duomo – Florence
Inferno adalah bab yang menceritakan perjalanan Dante ke sepuluh tingkat neraka. Dalam karyanya, Dante memakai tiga nama wanita, Virgil, Maria dan Beatrice. Dalam perjalanan ke neraka, Dante ditemani oleh Virgil. Sedangkan perjalanan penebusannya Dante di temani oleh Maria dan dalam perjalanan ke surga ia ditemani oleh Beatrice.
(Pas tau hal ini jujur aku mikir: oh ternyata Dante juga manusia, dia bisa galau, terbukti pas ke surga aja dia bayanginnya sama Beatrice. Ya semacam kata Fadli PADI: meskipun aku di surga… tetap ku tak bahagia, karena itu tanpamu… )
Interpretasi Inferno karya Dante ini kemudian dituangkan oleh salah satu seniman besar yang bernama Botticelli yang melukiskan bagaimana gambaran tingkatan neraka versi Dante. Lukisan yang terkenal dengan nama La Mappa dell’Inferno atau dalam bahasa Inggris disebut dengan: Map of Hell.
Map of Hell karya Botticelli ini digambarkan sebagai irisan-melintang di bumu denga lubang besar berbentuk corong yang kedalamannya tak terhingga. Lubang neraka ini dibagi menjadi teras-teras menurun dengan penderitaan yang semakin hebat. Setiap tingkat dihuni oleh masing-masing jenis pendosa yang tersiksa.
Map of Hell by Botticelli
Map of Hell by Botticelli
Adapun tingkatan dosa itu diambil dari mnemonik Latin yang diciptakan oleh Vatikan pada Abad Pertengahan untuk mengingatkan umat Kristiani pada Tujuh Dosa Besar. Disingkat dengan nama SALIGIA yang berarti Superbia (kesombongan), Avaritia (keserakahan), Luxuria (hawa nafsu), Invidia (kecemburuan), Gula (kerakusan), Ira (kemarahan) dan Acedia (kemalasan).
(Mungkin karena aku muslim, daripada gambaran Inferno ini buat aku lebih serem buku-saku-siksa-neraka-yang-dulu-terbit-jaman-tahun-90an-itu >_< dan dalam Islam, tujuh dosa besar ini juga termasuk dalam kategori dosa =_= semua agama itu pada hakikatnya selalu mengajak kearah yang benar ^^)
Seperti sebelumnya, kali ini Dan Brown juga mengajak pembacanya untuk menelusuri berbagai macam karya seni yang ada di dunia. Untuk Inferno kali ini, para pembaca akan diajak untuk berjalan-jalan dalam imajinasi di kota tua Florence, Venesia dan berakhir di Turki.
Yang pertama adalah Gerbang Porta Romana yang di jelaskan di Bab 20. Gerbang ini dibangun pada tahun 1320 dan pernah dijadikan sebagai tempat Bazar Kontrak atau Fiera dei Contratti. Dimana pada jaman itu para orang tua seringkali memaksa anak-anak perempuan mereka untuk kawin kontrak dan mendapatkan mas kawin yang tinggi.
Di dalam buku, gerbang ini merupakan tempat pertama dari pelarian Langdon bersama Dokter Sienna ketika dikejar oleh pembunuh bayaran.
Porta Romana - Florence, Italia
Porta Romana – Florence, Italia
Di bab 21, para pembaca akan bertemu dengan dengan lukisan karya seniman Vasari yang dibuat pada tahun 1563 dan tergantung di Palazzo Vecchio, Florence. Lukisan ini menyimpan misteri akan arti kata Cerca Trova (cari dan temukan) yang hanya bisa dilihat dengan memakai binocular (teropong).
Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi Langdon pertama kali akan misteri yang ia pecahkan.
Tulisan Cerca Trova yang terpampang dalam lukisan yang tergantung di Hall of Five Hundred
Tulisan Cerca Trova yang terpampang dalam lukisan yang tergantung di Hall of Five Hundred
Bab 27 akan banyak menceritakan tentang istana keluarga Medici. Keluarga bangsawan kaya raya yang berjaya hingga empat abad namun pada akhirnya harus mengangalami kebangkrutan di akhir tahun 1700 atau abad ke delapan belas.
Istana keluarga Medici menjadi tempat persembunyian Langdon ketika dikejar oleh para tentara berseragam hitam. Mulai dari Institut Seni, Boboli Garden dan pada akhirnya bersembunyi di gua buatan.
Instituto Statale D'arte (Institut Seni) yang dulunya merupakan kediaman keluarga bangsawan Medici pada abad ke 15
Instituto Statale D’arte (Institut Seni) yang dulunya merupakan kediaman keluarga bangsawan Medici pada abad ke 15

Boboli Garden - Taman labirin yang dibuat khusus sesuai pesanan keluarga Medici
Boboli Garden – Taman labirin yang dibuat khusus sesuai pesanan keluarga Medici

Buontalenti Grotto - Gua buatan yang terdiri dari tiga pintu masuk yang terdapat banyak patung-patung seni yang dipilih langsung oleh keluarga Medici sebagai penjaganya
Buontalenti Grotto – Gua buatan yang terdiri dari tiga pintu masuk yang terdapat banyak patung-patung seni yang dipilih langsung oleh keluarga Medici sebagai penjaganya
Bab 37 menceritakan tentang kunjungan Langdong ke Palazzo Vecchio. Memasuki The Hall of Five Hundred, berjalan terus ke arah Lo Studiolo untuk bisa melihat secara dekat muka asli Dante Alighieri yang tercetak dalam topeng kematiannya sendiri.
Dengan menemukan topeng kematian Dante, pada akhirnya satu persatu misteri mulai terkuak.
Palazzo Vecchio - salah satu ikon Florence
Palazzo Vecchio – salah satu ikon Florence

The Hall of Five Hundred - dinamakan seperti fungsinya untuk menjamu 500 orang tamu pada jamannya. Di sisi kiri terlihat lukisan dimana tulisan Cerca Trova berada.
The Hall of Five Hundred – dinamakan seperti fungsinya untuk menjamu 500 orang tamu pada jamannya. Di sisi kanan terlihat lukisan dimana tulisan Cerca Trova berada.

Lo Studiolo - sebuah studio pribadi yang digunakan oleh para bangsawa untuk menyendiri
Lo Studiolo – sebuah studio pribadi yang digunakan oleh para bangsawa untuk menyendiri

Topeng kematian Dante - dimana para wisatawan dapat melihat raut muka asli dari penyair Dante
Topeng kematian Dante – dimana para wisatawan dapat melihat raut muka asli dari penyair Dante. Topeng kematian ini diceritakan berada di dalam Lo Studiolo
Bab 51 akan mengajak pembaca ke dalam Museo Casa Di Dante kemudian berlanjut ke rumah suci Chiesa atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Dante yag terletak di Santa Margherita dei Cerchi.
Gereja Dante - konon katanya makam Beatrice Portinari diletakkan disini. Dan pada akhirnya gereja ini menjadi rujukan para pendoa yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, layaknya Dante kepada Beatrice
Gereja Dante – konon katanya makam Beatrice Portinari diletakkan disini. Dan pada akhirnya gereja ini menjadi rujukan para pendoa yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, layaknya Dante kepada Beatrice
Pada Bab 53 para pembaca akan bertemu dengan pusat spiritual kuno di Florence, yaitu Katedral Santa Maria del Fiore atau yang lebih dikenal dengan julukan Il Duomo.
Il Duomo - Katedral yang menjadi ikon utama Florence
Il Duomo – Katedral yang menjadi ikon utama Florence
Bab 72 pembaca akan bertemu dengan Basilika Santo Markus dengan keempat patung kuda perunggunya yang merupakan salah satu hasil dari jarahan saat perang salib berlangsung.
Disinilah pada akhirnya Langdon benar-benar memahami semua misteri yang dimaksud. petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membuat ia sadar bahwa terjadi kekeliruan dalam pemikirannya.
Basilika Santo Markus
Basilika Santo Markus

Kuda perunggu Santo Markus. Kalung leher yang dipakai oleh kuda disinyalir sebagai penyangga kepala Kuda yang sengaja di potong agar mudah di bawa di dalam kapal saat dibawa kembali ke Venesia
Kuda perunggu Santo Markus. Kalung leher yang dipakai oleh kuda disinyalir sebagai penyangga kepala Kuda yang sengaja di potong agar mudah di bawa di dalam kapal saat dibawa kembali ke Venesia
Kemudian perjalanan di lanjutkan ke negara tempat persimpangan timur dan barat berlangsung. Negara sekuler dimana semua kepercayaan barat dan timur bisa berdiri bersebelahan.
Perjalanan ke Istanbul, Turki yang pertama adalah melewati Blue Mosque, kemudian Hagia Sophia dan berhenti pada waduk kuno Yerebatan Sarayi (Istana yang Tenggelam).
Masjid Biru atau yang disebut dengan Blue Mosque
Masjid Biru atau yang disebut dengan Blue Mosque

Hagia Sophia - pilar berbentuk seperti peluru raksasan itu diyakini sebagai simbol dari masa-masa berat pada jaman Hagia Sophia didirikan
Hagia Sophia – pilar berbentuk seperti peluru raksasan itu diyakini sebagai simbol dari masa-masa berat pada jaman Hagia Sophia didirikan

Interior lapis kedua di dalam Hagia Sophia. Dulunya Hagia Sophia ini berfungsi sebagai gereja, namun ketika konstatinopel jatuh ke tangan pejuang muslim saat perang salib, maka Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid. Namun sekarang digunakan sebagai museum.
Interior lapis kedua di dalam Hagia Sophia. Dulunya Hagia Sophia ini berfungsi sebagai gereja, namun ketika konstatinopel jatuh ke tangan pejuang muslim saat perang salib, maka Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid. Namun sekarang digunakan sebagai museum.

Lebih dekat - bagian tengah merupakan semacam altar dengan dinding bergambar Yesus Kristus namun diapit tulisan kaligrafi bertulisakan Allah dan Muhammad di kedua sisi pilar.
Lebih dekat – bagian tengah merupakan semacam altar dengan dinding bergambar Yesus Kristus namun diapit tulisan kaligrafi bertulisakan Allah dan Muhammad di kedua sisi pilar.

Waduk Yarebatan Sarayi atau Waduk Istana yang Tenggelam dulunya berfungsi sebagai waduk utama kota Istanbul
Waduk Yarebatan Sarayi atau Waduk Istana yang Tenggelam dulunya berfungsi sebagai waduk utama kota Istanbul

Hingga kini Yarebata Sarayi masih digenagi air jernih yang merupakan daya tarik utama wisatawan
Hingga kini Yarebata Sarayi masih digenagi air jernih yang merupakan daya tarik utama wisatawan

patung kepala medusa yang diletakkan secara terbalik di dalam waduk yang menjadi simbol pendosa yang juga disebutkan di dalam buku Dante
patung kepala medusa yang diletakkan secara terbalik di dalam waduk yang menjadi simbol pendosa yang juga disebutkan di dalam Inferno karya Dante
Sama seperti buku terdahulunya, Dan Brown selalu berhasil menggabungkan apa yang menjadi issue yang sekarang lagi marak dibicarakan dengn hal-hal yang berkaitan dengan symbol dan sejarah. Membuat para pembacanya seakan-akan benar mempercayai bahwa apa yang tertulis di situ adalah benar adanya.
Saking tipisnya perbedaan antara fiksi dengan fakta yang disajikan, kita sebagai pembaca harus benar-benar jeli. Namun untuk buku Inferno kali ini perbedaanya masih bisa diketahui. Karena issue yang dibahas itu sangatlah bertolak belakang dengan karya sastra Dante yang menjadi patokan.
Buat aku pribadi, menghabiskan 639 halaman dalam lima hari itu termasuk cukup panjang. Kenapa? Karena ya seperti yang aku bilang di awal menurutku ini agak sedikit cukup bertele-tele. Ditambah dengan beberapa istilah yang membuat aku harus membacanya berulang-ulang baru bisa aku cerna.
Ya ditambah waktu kerja yang selalu sampai malam, jadi bacanya juga curi-curi waktu. Dari segi terjemahan menurutku ini bagus. Tidak membuat bingung dan bisa dibaca dengan mudah. Istilahnya tidak membuat orang berfikir untuk membaca versi aslinya karena bingung akan bahasa terjemahan yang dipakai.
Yang paling aku suka adalah di bagian akhirnya, dimana diselipkan banyak sekali pemikiran mengenai issue yang dibahas. Pembaca diajak untuk ikut lebih peka terhadap hal-hal disekitar terutama untuk daerah abu-abu kehidupan. Lalu mengenai teori penyangkalan serta hal-hal yang memang menjadi polemik tersendiri hingga saat ini dan dapat dijadikan sebagai sebuah renungan.
Mengenai teori apa yang dibahas atau konsep apa yang dipakai dalam buku ini sebenarnya aku pengen banget buat jelasin, tapi aku pikir itu akan menjadi spoiler yang tidak terbantah. Karena justru itu yang menjadi kunci dari misteri yang dibahas dalam buku ini, jadi lebih baik bila dibaca sendiri hehehe.
Yang pasti Dan Brown juga mengaitkan cerita ini dengan wabah hitam atau yang lebih dikenal dengan The Black Death. Wabah ini terjadi pada tahun 1348 ~ 1350 dan menewaskan 75 ~ 200 juta warga Eropa, atau sekitar hampir 60% populasi.
Seperti biasa, Brown juga tetap menyelipkan karakter Langdon yang memang diceritakan seorang Darwinian. Atau seseorang yang lebih meyakini fakta daripada sebuah keyakinan akan agama. Meskipun pekerjaan Langdon adalah seorang ahli simbol yang rata-rata selalu berkaitan dengan simbol keagamaan.
Dari sini banyak pembaca setia Brown yang secara tidak langsung meyakini bahwa Brown sebenarnya ingin menunjukkan sedikit pembangkangan terhadap Vatikan. Yang mana sudah ia lakukan semenjak jaman kontroversi akan sifat keilahian Yesus dalam buku The Da Vinci Code.
Kesimpulannya buku ini sangat direkomendasikan buat yang suka fiksi sejarah. Hanya saja aku berharap Dan Brown dikedepannya bisa membuat yang setara dengan The Da Vinci Code. Namun paling tidak dengan harga seratus dua puluh lima ribu aku bisa menutup buku dengan puas untuk kali ini.
Last, kutipan pembuka di atas adalah kunci dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi.  Dimana jika di telaah lebih lanjut kalimat itu akan berbunyi:
Dalam masa berbahaya (krisis) tidak ada dosa yang lebih besar daripada tetap diam.

sumber :  https://saladbowldetrois.com/2013/12/08/resensi-inferno-by-dan-brown-karya-sastra/

Trailer Film


You Might Also Like

1 komentar:

  1. Blog yang menarik, saya teringat Dante, dia menulis di Inferno: "Banyak penududuk terkemuka Florence hidup di Neraka karena dosa-dosanya."
    Saya mencoba menulis blog tentang Dante, semoga anda juga suka: http://stenote-berkata.blogspot.com/2017/12/wwancara-dengan-dante.html

    BalasHapus